pResource:
YT Channel catatanomika
Kenapa Banyak Orang Gak Tau Diri Hutang Gak Dibantu Malah Bilang Kita Pelit?


pasti lu pernah ngalamin ada yang dateng buat minjem uang lalu lu tolak dengan alesan yang jelas tapi ujung-ujungnya lu malah di cap PELIT. seolah-olah itu sama aja kayak lu nolak kemanusiaan.

Fenomena ini bagi gw menarik: kenapa ya menolak memberi hutang sering dianggap pelit padahal keputusan itu rasional dan personal?. Seolah-olah ada standar sosial yang maksa kita untuk selalu mengiyakan segala permintaan, kendatipun kondisi kita sendiri pun tidak memungkinkan.

Penolakan bukan lagi dianggap sebagai hak individu, tetapi ditafsirkan sebagai kelemahan moral. Padahal kalau kita tela’ah dengan seksama duduk perkaranya itu bukan soal uang, ada faktor budaya, sosial, dan psikologi yang ngebuat penolakan dianggap salah hingga memunculkan stigma negatif.

dapat kita sepakati bahwa masyarakat indonesia punya nilai yang tinggi dalam hal tolong-menolong… dari kecil kita udah diajarin “kalau ada orang susah kamu harus kamu tolong ya nak…”. Konsep gotong-royong ini ngebentuk kita untuk menolong orang lain itu bukanlah sebuah pilihan tetapi kewajiban. Jadi gitu ada orang yang minta tolong-apalagi ini konteksnya minjem duit-seolah olah kita dituntut nurut sama aturan sosial itu.

Nolong orang itu perbuatan yang baik, gw sepakat dengan itu, tapi yang jadi masalah… realita saat ini di masyarakat ekspektasinya terlalu tinggi. Orang yang lagi butuh uang dia anggap nolong dia itu hal yang lumrah serta wajar terlebih lagi harus dilakukan. Dalam psikologi sosial ini disebut sebagai SOCIAL OBLIGTATION

SOCIAL OBLIGATION

adalah kewajiban sosial, tekanan atau harapan seseorang atau suatu kelompok untuk bertindak secara bertanggung jawab demi kepenting bersama.

Kalau orang lain ngebantu diangap wajar, tapi lalau nolak sung dicap pelit, enggak peduli, bahkan gapunya hati. Padahal realitanya tiap orang kan punya SIKONTOL masing masing (Situasi, Kondisi, dan Toleransi). Ada yang emang ga megang duit, ada yang buat kebutuhan keluarga, ada juga yang punya prinsip gamau ngutangin siapapun. Tapi karena norma sosial ini terlalu kuat yang diliat jadinya lu nolak lu ngelawan kewajiban sosial, artinya lu ngelawan kelompok.

Dari sini masuk juga konsep NORM OF RECIPROCITY

NORM OF RECIPROCITY

norma timbal balik, sebuah fundamental aturan sosial dimana orang diharapkan untuk membalaskan budi, hadiah, kebaikan yang dia dapat dari orang lain.

Intinya orang kalo lagi susah otomatis orang lain kudu nolongin tanpa mikirin variable lain. Jadi waktu ditolak orang ga ngeliat itu sebagai hak pribadi orang tapi sebagai pelanggaran norma yang udah disepakati bareng bareng di masyarakat.

lalu muncul pertanyaan mengapa orang yang kita anggap deket punya kecenderungan-ga selalu-untuk seenaknya?

di masyarakat kedekatan hubungan sering jadi dasar buat nentuin ekspektasi. Orang akan punya harapan lebih mendapatkan bantuan dari keluarga, teman dekat, atau tetangga dibanding orang lain yang ga sedeket itu ikatannya sama dia. Ini yang disebut IN-GROUP BIAS

IN-GROUP BIAS

tendensi psikologi untuk orang nge-iyain maunya kelompok sendiri ketimbang kelompok lain

Kalau kelompok yang ada lu didalemnya ini mindfullness… rasional… ya kita hepi sebagai bagian dari kelompok tersebut. Masalah muncul ketika kelompok kita ini udah ngga realistis. Penolakan dianggap sebagai sebuah pengkhianatan atas hubungan dekat. Fenomena ini juga nunjukin kalau kedekatan sosial sering bikin orang ngerasa lebih punya hak untuk kebermanfaatan dia seorang. Mereka nganggep kalau hubungan dekat ni bisa dijadikan jaminan moral yang otomatis bisa ditagih kapan aja-masih inget NORM OF RECIPROCITY?.

Dalam konteks hutang, orang yang ditolak seringkali langsung nuduh bahwa orang tersebut pelit. Itu bukan semata-mata karena orang tersebut pasti pelit, tapi karena tuduhan itu berfungsi buat melindungi ego mereka sendiri. Nyalahin orang lain itu adalah cara paling mudah buat menghindari rasa malu. Kalau mereka mengakui ditolak karena reputasi mereka yang jelek atau karena mereka sering gagal bayar, itu berarti harus mengakui kelemahan sendiri. Buat banyak orang, itu jauh lebih berat dibanding sekedar bilang dia pelit. Dengan begitu, mereka bisa mempertahankan citra diri tanpa harus berhadapan langsung sama kesalahan yang sebenarnya.

Dalam psikologi sosial ada satu konsep penting yang disebut HOT-COLD EMPATHY GAP.

HOT-COLD EMPATHY GAP

Intinya manusia sering kesulitan memahami perspektif orang lain kalau mereka lagi ada dalam kondisi emosional yang berbeda.

Ketika seseorang sedang panik karena butuh uang, mereka berada dalam kondisi yang hot-state, emosi memegang kendali, urgensi terasa mendesak, dan semua hal dipandang dari kacamata kebutuhan sesaat. Sebaliknya, orang yang dimintai uang biasanya berada dalam cold state. Mereka cenderung lebih tenang, berpikir rasional, dan menimbang keputusannya berdasarkan strategi finansial jangka panjang.

Perbedaan kondisi ini menciptakan jarak yang besar dalam komunikasi.

  • Yang butuh uang sulit paham kenapa orang lain harus mempertimbangkan banyak hal sebelum memberikan pinjaman.
  • Sementara yang dimintai merasa aneh kenapa orang lain enggak bisa menerima penolakan yang logis.

Dari sinilah muncul konflik buat orang yang sedang panik. Penolakan langsung dah tuh diterjemahkan sebagai sikap dingin, enggak peduli, bahkan pelit. Mereka enggak bisa ngeliat bahwa orang lain juga punya prioritas, keterbatasan, atau pengalaman buruk sebelumnya terkait hutang.

Emosi yang dominan ini bikin para penghutang buta terhadap alasan rasional di balik keputusan orang lain. Sebaliknya, orang yang berpikir rasional juga sering gagal memahami betapa kuatnya tekanan emosional ketika seseorang sedang kepepet.

Sayangnya banyak orang lebih gampang lempar label buruk ketimbang bercermin kenapa mereka sampai ada di posisi berhutang. Solidaritas yang sering dipaksakan, ekspektasi yang enggak realistis, dan ego yang rapuh kalau enggak dipenuhi. Akhirnya fenomena ini lebih banyak tabiat atau wajah asli orang tersebut.